Embun tebal kembali menyelimuti desaku, pagi yang hampir setiap hari seperti ini. Daerah lembah Gunung Marapi tempatku melangsungkan kehidupan bersama Apak dan Uni Lais, begitulah aku memaggil mereka. Aku adalah anak dari seorang petani wortel yang hanya tamatan sekolah dasar. Walau demikian, dari hasil keringatnyalah aku dapat tumbuh seperti sekarang. Pendidikan merupakan pasal yang diwajibkan oleh Apak. Katanya “Ndak baguno waang kudu yuang, ndak ka jadi urang waang, sakola lah tinggi supayo jadi mentri waang yo yuang”1. Entah berapa kali Apak mengatakan hal seperti itu kepadaku. Sampai hafal betul aku logat bicaranya.
Faisal begitulah orang-orang menyapaku. Tidak ada istilah nama panjang dalam namaku. Fa’i sebutan kecilku, Apak dan Uni Lais memanggilku demikian. Aku bersekolah di kampung sebelah, sebab kampung kami belum memiliki sekolah yang disediakan oleh pemerintah. Aku anak SMP kelas terakhir dan Uni Lais anak SMA juga kelas terakhir. Setiap pagi, kami pergi bersama menggunakan sepeda tua milik Apak, aku pemegang pedal sepeda dan Uni Lias di belakangku. Sekolah kami cukup jauh sekitar 7 sampai 8 kilometer dari rumah, jadi tak heran kalau kami berangkat sekolah sebelum subuh. Tak banyak anak-anak sebaya aku dan Uni Lais yang bersekolah, kebanyakan dari mereka ikut bekerja di ladang bahkan banyak pula dari mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Aku termasuk anak yang cukup beruntung dari segi pendidikan.
Sebenarnya sekolah bukanlah hal yang begitu menyenangkan bagiku. Sekolah yang menurutku tak patut disebut sebagai sebuah sekolah. Atap yang bolong dimana-mana, jendela yang seluruhnya tanpa kaca, bukan karna tidak ada tapi sudah pecah oleh banyak hal Pintu triplek yang tak punya engsel serta meja dan kursi yang panjang kakinya tidak lagi sama. Membayangkan hal itu membuatku lelah, lebih baik aku ikut Apak bekerja di ladang. Setidaknya aku tak perlu repot-repot untuk pergi ke sekolah di subuh hari. Tapi aku tidak punya pilihan lain, karena ini permintaan apak agar aku selalu bersekolah.
Aku lebih senang menulis dan mengambar, hampir setiap waktu aku berupaya untuk menyisakan waktu pergi ke daerah kaki gunung marapi sekadar melepaskan lelah dan bosan. Disanalah aku menulis setiap kejadian dalam hidupku dan menulis apa yang ingin aku ungkapkan. Menulis seakan membuat bebanku berkurang, setidaknya ada tempat untuk meluapkan emosi dan kekesalan. Biasanya aku menyelipkan gambar di setiap tulisanku, awalnya agar tulisan itu terlihat lebih bagus, tapi lama kelamaan menjadikannya seperti sebuah hobi. Menggambar membuatku semakin mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan.
Kebanyakan dari hasil tulisanku, aku berikan kepada Pak Wo Yan. Ia adalah juragan sayur di desa kami, ia yang membawa sayur hasil panen desa kami menuju pasar kota. Darinyalah aku memiliki semangat untuk menulis, katanya “Kalau iyo waang ndak ka serius sakola rancak waang jadi tukang tulis sajo, bisa kayo waang deknyo tu yuang, kawan Pak Wo Yan ado nan sarupo itu, kini yolah jadi urangnyo yuang, buek sajolah dek waang carito, kok carito apo nan katuju”2. Kata-kata Pak Wo Yan ini selalu terngiang dalam pikiranku. Aku selalu bersemangat setelah Pak Wo Yan mengatakan hal seperti itu. Ia akan memberikan ceritaku pada temannya itu, siapa tahu ceritaku bisa diterbitkan di koran daerah.
Hari ini Rabu pagi, semua orang sibuk dengan sayuran dan hasil panen masing- masing. Hari ini aku sengaja telat datang ke sekolah, sebab untuk untuk hari Rabu aku harus membantu apak untuk mengangkat hasil panen menuju pasar desa dan menaikkannya ke atas truk milik Pak Wo Yan. Apak sedang melakukan semacam tawar menawar dengan Buk Mian dialah yang akan menjualkan hasil panen kami di pasar kota nanti. Inilah waktu yang tepat bagiku untuk menemui Pak Wo Yan sekaligus menyerahkan hasil tulisanku kepadanya. “Pak Wo Yan...”, sapaku sedikit berteriak. “Yo, eh waang yuang, ado apo?”3, jawab Pak Wo Yan saat melihatku sedikit berlari kearahnya. “Baa tulisan Fa’i patang Pak?”4, aku langsung masuk pada inti pembicaraan. “Tulisan kapatang tu? Ooh nan itu, waang menang yuang”5, jawab Pak Wo Yan dengan wajah bangga. “Menang baa ko Pak, lai masuak koran carito nan Fa’i buek tu? Dari mano pulo Pak Wo Yan tau?”6, aku bergelagak tidak percaya. Pak Wo Yan kemudia menunjukkan dua lembar koran dan menunjukkan dua cerpen kepadaku. Aku melihatnya tidak percaya, aku menang dua sekaligus. Pak wo Yan juga menunjukkan kolom hadiah kepadaku. “Ko hadiah waang yuang, waang dapek piala, tabungan, paragaik sakola, samo piagam. Salamaik yo yuang, bangga Pak Wo Yan samo waang yuang. Bia kok masalah hadiah tu Pak Wo Yan yang ambiakkan”7, kata Pak Wo Yan kepadaku. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih, kemudian kembali ke tempat apak.
Sepulang dari pasar desa, aku membaritahukan kemenaganku kepada apak. Aku berharap respon yang baik. Ternyata, hal itu diluar ekspektasiku. Apak tidak memberikan respon yang baik. “Untuak apo manulis carito ndak jaleh sarupo itu yuang, baraja se lah waang elok-elok yo yuang”8, kata apak seakan tak menyetujuiku untuk menulis. Tapi aku penasaran alasan apak melarangku untuk menulis. Aku berupaya untuk menanyakannya pada apak tapi apak hanya diam tidak menjawab apapun. Aku tak dapat mengelak, membantah apak sama aja saja lompat ke jurang, itu hal yang paling dibenci oleh apak. Diam itulah sikap yang kupilih.
Minggu, hari yang bagus untuk pergi ke daerah kaki Gunung Marapi, aku menulis semiua apa yang ingin kutulis. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku mencoba mencari alasan tapi kurasa hal itu sia-sia. Meskipun aku mencari alasan sebanyak yang aku mampu, apak bukanlah tipe orang yang yang mudah berubah pikiran. Aku tak ingin mimpiku untuk jadi penulis terkenal terbenam begitu saja. Aku sudah memimpikan banyak hal ketika aku menjadi seorang penulis. Sudah dua jam lebih aku di kaki Gunung Marapi ini, lebih baik aku pulang, takutnya apak menanyaiku.
Aku terkejut ketika memasuki rumah, banyak orang yang tidak kukekal di dalam rumah. Apak tampak serius bicara dengan mereka, sepertinya mereka orang kota. Aku berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak mengganggu percakapan mereka. Tak kusangka bukuku jatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup keras akibat benturannya ke lantai papan. Apak melihat itu spontan memanggilku, dengan wajah tenang aku menemui pusat percakapan mereka. Setelah bersalaman aku duduk di samping apak. Apak memperkenalkan mereka kepadaku. Ternyata, dugaanku benar. Mereka orang-orang yang berasal dari pusat kota. Salah seorang dari mereka membuka percakapan dengan memperkenalkan dirinya. Aku tak menyangka ternyata ia adalah temannya Pak Wo Yan yang sering diceritakannya kepadaku. Tak lepas senyum lebar dari bibirku, sungguh aku tak menyangka hal ini terjadi kepadaku. “Kami kasiko Pak bamaksud untuak mengajak anak Bapak, Faisal manjadi bagian dari tim redaksi kami dikoran daerah, kantua kami di Padang. Kami tau kalau Faisal baru kelas tigo SMP, tapi Pak salapeh tamaik beko bia kami yang manangguang sakolahnyo di kota. Iko niat dari pimpinan kami Pak Budi”9, salah seorang dari mereka sambil memperkenalkan Pak Budi sebagai ketua tim redaksi sekaligus temannya Pak Wo Yan.
Dalam hati aku ingin berteriak gembira tapi tidaklah mungkin. Di depanku ada orang yang selama ini aku harapkan untuk bertemu. Tak sengaja aku melihat wajah apak, ada senyum tipis di wajahnya. Aku tak yakin dengan jawaban yang akan diberikan oleh apak, hanya harapan supaya apak akan berubah pikiran. “Ndak mantun do Pak, bialah ambo pikia-pikia kiro saminggu ko, wak caliaklah dulu bagaimano rancaknyo”10, respon yang apak berikan setelah selang beberapa waktu. “Jadihlah, Pak. Kami harap apak basanang hati manarimo tawaran kami”11, mereka menjawab dengan baik. Setelah selesai berbincang mereka pamit dan pergi kembali kekota.
Aku hanya diam menunggu apak memulai percakapan. “Baa nionyo yuang, ka batarimo tawaran tamu cako. Apak miliah Waang ndak usahlah jadi penulis pulo, jadilah Waang mentri yo yuang. Iko pasan tarakhir Amak waang, jan disio-sioan yo yuang. Apak ndak ba maksud malarang Waang do, tapi Apak nio Waang ikuik samo pasan Amak”12, kata apak mulai memecahkan heningnya sore. Aku baru tahu kalau menjadi menteri adalah keinginan terakhir dari amak. Tak ada pilihan lain bagiku selain menjadi menteri. “Biakan sajolah Fa’i tu Pak, penulis pilihan nan rancak. Kalau ka jadi menteri bisa sambia jadi penulisnyo Pak, izinan sajolahnyo sakola kakota. Disinan labiah rancak pendidikannyo, lagi pula sabanta lai Fa’i tamaik dari SMP. Sia nan tau jo nasib Pak”13, kata Uni Lais menyela. Apak tampak sedang berpikir keras, aku hanya berharap apak akan berubah pikiran. “Tasarah waanglah yuang, baa nan katuju samo waang apak manarimo sajo. Tapi jan pulolah balupoan pasan amak waang yo yuang”14, kata apak dengan nada yang serius. Aku merespon dengan anggukan yang mantap. Ini hari paling menyenangkan, ternyata tidak sesulit bayanganku. Apak memberiku izin jadi seoraang penulis. Ingin rasanya aku memberi tahu Pak Wo Yan sekarang juga. Besok aku pasti memberitahukannya, Rabu yang kutunggu.
Di pasar desa aku memberitahukan kedatangan tim redaksi koran daerah ke rumahku tadi malam kepada Pak Wo Yan. Ia mungucapkan selamat sekaligus memberikan hadiah kemenanganku. tak lupa aku menyampaikan serangkaian pesan Pak Budi dan maksud kedatangannya.
Beberapa bulan kemudian....
Aku sibuk dengan keberangkatanku menuju kota. Pak Budi sudah datang menjemputku dengan mobil kijangnya. Lama aku berpamitan dengan apak dan Uni Lais. Banyak hal yang apak pesankan kepadaku, terutama soal pesan amak untuk mengusahakan agar pesan itu terwujud. Jangan sampai lalai shalat dan malas sekolah. Pandai-pandai bagi waktu, hemat dalam membelanjakan uang saku dan masih banyak lagi. Apak menitipkan sebuah amplop berisi foto dan surat serta sekantong uang hasil tabungannya beberapa bulan terakhir. Katanya untuk berjaga-jaga disana, manakala aku sedang sulit. “Jago foto samo surek tu elok-elok yo yuang, itu dari amak waang”15, itu kata-kata yang apak ucapkan ketika memberi amplop itu kepadaku. Aku mengangguk dan berpamitan. Setelah merasa cukup, aku naik ke mobil dan berangkat menuju kota.
Di sekolah baru aku mengambil kelas bahasa. Jelas bahwa aku bukanlah orang yang suka hitung-hitungan dan aku juga tak suka dengan hafalan yang terlalu banyak. Kelas bahasa jauh lebih baik terutama untuk orang yang suka menulis sepertiku. Aku aktif dalam berbagai lomba cerpen yang diadakan oleh beberapa pihak, mulai dari tingkat sekolah sampai tinggal nasional. Untungnya aku memenangkan beberapa diantaranya. Tak lupa aku juga bergabung dalam tim redaksi koran daerah, dalam bagian hiburan dan tulisan. Aku belajar banyak hal dari mereka, para anggota tim redaksi. Mulai dari penulisan yang benar sampai editan surat kabar. Walau demikian, aku takkan lupa pesan dari amak untuk menjadi seorang menteri. Aku berusaha untuk menjadi menteri luar negeri, mulai dari kelas bahasa yang aku tekuni dan mencari berbagi sumber yang berkaitan dengan itu. Penulis sebagai pekerjaan sampingan bagiku. Impian yang kuimpikan satu demi satu dapat aku wujudkan. Tak sabar rasanya menunggu hari esok, impian mana lagi yang akan terwujud.
Catatan kaki:
1. Takkan jadi orang yang berguna kamu suatu saat nanti, takkan jadi orang sukses kamu Sekolahlah kamu tinggi-tinggi supaya bisa jadi seorang menteri.
2. Kalau emang kamu tak serius sekolah, lebih baik jadi penulis saja. Kamu bisa kaya sebagai penulis. Teman Pak Wo Yan ada yang kayak itu. Sekarang dia jadi orang yang sukses. Tulis saja apa-apa yang ingin kamu tulis.
4. Bagaimana tulisan Fa’i kemaren Pak?
5. Tulisan yang kemaren? Oh yang itu, kamu menang Fa’i
6. Menang gimana Pak? Emang tulisan Fa’i masuk koran? Par Wo Yan tau dari mana kalau Fa’i menang?
7. Ini hadiah kamu. Kamu dapat piala, tabungan, perlengkapan sekolah sama sertifikat. Selamat ya, Pak Wo Yan bangga sama kamu. Masalah pengambilan hadiah biar Pak Wo Yan yang ngambil.
8. Untuk apa menulis cerita yang tak jelas seperti itu. Lebih baik kamu belajar sungguh-sungguh
9. Kami kesini bermaksud untuk mengajak Faisal menjadi bagian dari tim redaksi dikoran daerah, kantor kami di Padang. Kami tau kalau faisal kelas tiga SMP,nanti setelah tamat kami akan menaggung biaya sekolah Faisal di kota. Ini niat dari pimpinan kami Pak Budi
10. Begini pak, biar saya pikir selama seminggu ini. Mari kita lihat bagaiman bagusnya
11. Baiklah Pak. Kami harap bapak senang menerima tawaran kami
12. Bagaimana kamu ingin menerima tawaran tamu tadi? Kalau bapak memilih kamu tak usah jadi menulis. Jadilah menteri seperti pesan ibu kamu. Jangan kamu sia-siakan pesan ibu kamu. Bapak ingin kamu nurut sama pesan ibu
13. Biarkan saja Fa’i itu pak. Jadi penuliskan bagus juga. Lagipula jadi menteri dan bisa sekalian jadi penulis. Sekolah di kota itu bagus loh pak. Sebentar lagikan Fa’i tamat dari SMP, siapa yang tau sama nasib kita pak
14. Terserak kamulah kalau seperti itu, bapak menerima saja. Tapi jangan sampai kamu lupa sama pesan ibumu
15. Jaga foto sama amplopnya dengan baik, itu dari ibumu
Salam manis, semoga teman-teman menyukai cerpen dengan judul “Kugapai Impian Dari Kaki Gunung Marapi”